Komunitas Mahasiswa NTT Universitas Atma Jaya Yogyakarta mengadakan Road to FESTAYA Vol. 3 dengan tema “Dari Desa ke Dunia, Menciptakan Peluang Pendidikan bagi Anak-anak NTT.” Acara ini berlangsung pada Sabtu, 22 Maret 2025, di Kampus 3,  Gedung Bonaventura (Babarsari).

Talkshow ini menghadirkan Severus Febrianto Padji Muga, S. H., bersama Fransiskus S Gunadi, S.Fil., dan Yunarius Ugi Suharjo, M.Pd. sebagai narasumber utama.

Sumber: Dokumentasi Pribadi Teras Pers

FESTAYA atau Festival Budaya Timur adalah serangkaian acara yang menampilkan keunikan budaya timur terkhusus pada wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Salah satu rangkaian acara festival ini meliputi talkshow yang membahas berbagai isu seperti masalah ekonomi, geografis, termasuk pendidikan di wilayah Timur Indonesia.

KOMANTTA (Komunitas Mahasiswa Nusa Tenggara Timur) UAJY memanfaatkan kesempatan ini sebagai wadah diskusi bagi mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi dan berbagi gagasan mengenai permasalahan yang dihadapi di daerah asal mereka. Talkshow ini dibuka dengan sambutan dari Angelina Aryani Jandu, Ketua Panitia KOMANTTA.

Sumber: Dokumentasi Pribadi Teras Pers

Dalam sambutannya, Angelina menekankan bahwa FESTAYA Vol 3 kembali mengangkat isu pendidikan sebagai topik utama. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur, masih terdapat tantangan besar dalam akses pendidikan di wilayah ini, seperti keterbatasan fasilitas, tingginya angka putus sekolah, dan biaya pendidikan yang relatif. Melalui acara ini, mahasiswa NTT di Universitas Atma Jaya Yogyakarta diharapkan semakin sadar dan peduli terhadap kondisi kampung halaman mereka. Selain itu, mahasiswa diajak untuk tetap menjunjung tinggi adat, budaya, dan nilai-nilai luhur sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya NTT kepada masyarakat luas, baik di lingkungan kampus maupun di luar.

Talkshow ini tidak hanya diperuntukkan bagi mahasiswa berdarah Timur, tetapi juga terbuka bagi seluruh mahasiswa UAJY yang tertarik dengan isu pendidikan dan bersama ingin mewujudkan pendidikan yang bermutu demi kesejahteraan bangsa. Acara ini turut dimeriahkan oleh penampilan tarian tradisional dari komunitas sebagai simbol pemaknaan bahwa budaya yang akan selalu hidup dan terus berkembang.

Adapun sesi diskusi bersama dua narasumber yang mengajak mahasiswa untuk berpikir secara sistematis dan kritis mengenai kondisi pendidikan yang selalu menjadi pusat perhatian banyak pihak. Yunarius Ugi Suharjo, sebagai pembicara pertama, menyetujui kesesuaian dengan isi pernyataan yang akan disampaikannya.

Sumber: Dokumentasi Pribadi Teras Pers

Dalam pernyataan Yunarius, ia menjelaskan bahwa tema “Dari Desa ke Dunia, Menciptakan Peluang Pendidikan bagi Anak-anak NTT” menggambarkan perjalanan transformasi dari kondisi daerah pedesaan melalui bidang pendidikan akan bersaing di tingkat global. Banyak anak-anak di daerah terpelosok tidak dapat melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Oleh karena itu, tema ini membawa visi dan misi untuk menjembatani kesenjangan tersebut dengan menciptakan peluang-peluang baru pada generasi muda saat ini. Berbagai tantangan ini menjadi bahan refleksi, terutama pada pemerintah yang bertugas mengayomi masyarakat dalam kondisi yang genting. Ketergantungan ini justru menguntungkan bagi kedua belah pihak, karena faktor pendukung seperti masyarakat yang mendapatkan fasilitas pendidikan dan pemerintah dapat berinovasi menjadi lebih baik.

Dengan menciptakan peluang-peluang tersebut, anak-anak NTT tidak hanya akan mendapatkan akses pendidikan yang lebih baik tetapi juga memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensi mereka secara maksimal. Melalui pendidikan yang memadai, anak-anak NTT akan menjadi jembatan untuk mengangkat potensi lokal dan memperkenalkan NTT ke panggung dunia.

Pada sesi diskusi kedua, Fransiskus Gunadi menggambarkan kondisi pendidikan di NTT pada desa tempat ia berasal. Ia menyoroti tingkat pendidikan di Indonesia mengalami fluktuasi data statistik mengenai dari tahun ke tahun, yang secara langsung berdampak pada generasi muda dalam menentukan masa depan mereka.

Dalam diskusi ini, Fransiskus berbagi pengalaman masa kecilnya di kampung halaman. Sebelum menempuh gelar magister di Universitas Gadjah Mada, ia telah merasakan langsung tantangan mengenyam pendidikan dalam jangka waktu yang panjang. Menurutnya, pendidikan dapat mengubah alur nasib seseorang yang berawal dari ketidaktahuan menuju pemahaman yang lebih luas. Ia menganalogikan pendidikan sebagai air yang mengalir tenang, tetapi menyimpan hal-hal mengejutkan bagi sekitarnya. 

Selain itu, ia menekankan pentingnya menciptakan peluang pendidikan yang melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah dan lembaga pendidikan. Peluang ini dapat diwujudkan melalui program beasiswa, pelatihan guru, pengembangan kurikulum berbasis kebutuhan lokal, serta pemanfaatan teknologi untuk menjangkau daerah-daerah terpencil. Dengan adanya inisiatif tersebut, anak-anak NTT tidak hanya akan memperoleh akses pendidikan yang lebih baik, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensi mereka secara optimal.

Fransiskus juga menegaskan bahwa keberhasilan generasi muda di NTT dapat memberikan dampak positif bagi masa depan daerahnya. Melalui sesi diskusi ini, diharapkan mahasiswa semakin termotivasi untuk berkontribusi dalam peningkatan kualitas pendidikan, terutama di era digital yang semakin berkembang. Talkshow ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk berbagi pemikiran dan inspirasi guna menciptakan peluang pendidikan yang lebih baik bagi generasi mendatang di NTT.

Referensi: Badan Pusat Statistik Nusa Tenggara Timur (2023). Persentase Anak Umur 7–12 Tahun Yang Sedang Sekolah dan Tidak Sekolah (Persen), 2020-2022. Diakses dari  https://ntt.bps.go.id pada tanggal 26 Maret 2025

Penulis: Angelina Dewi Patricia 

Fotografer: Cokorda Putra Indra

Editor: Thedora Telaubun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *