YOGYAKARTA – Galeri seni menjadi ruang berdialog antara masa lalu dan masa kini. Harapan masa lalu pelukis tertuang ke dalam lukisan yang berasal dari sentuhan-sentuhan penuh imajinasi.

Galeri Seni Srisasanti, membawa konsep baru pada ruang-ruangnya. Dibuka pada 14 Maret 2025 di Tirtodipuran Link Building A, Srisasanti menghadirkan Eye of The Day sekaligus Suwung: Luruh dan Tumbuh yang membawa konsep baru pada setiap ruangnya. Kedua pameran ini tentu lahir dari perspektif yang berbeda, tetapi keduanya bersamaan menciptakan ruang sebagai saksi bisu dari sebuah perubahan yang dihidupkan melalui sentuhan para seniman.

Eye of The Day: Menghadirkan “The Sun” dalam Berbagai Makna

Eye of the Day, sebuah pameran dengan menghadirkan 17 seniman dari Indonesia hingga mancanegara. Mereka hadir sebagai pencipta makna sekaligus menyajikan karya dengan eksplorasi unik tentang “The Sun” atau matahari. Dalam pameran ini, setiap seniman menghadirkan interpretasi berbeda tentang matahari. Bukan hanya sebagai fenomena alam, tetapi juga sebagai simbol waktu, siklus kehidupan, dan ingatan. Melalui medium yang berbeda, para seniman menggali keterkaitan antara masa lalu dan masa kini, antara realitas dan imajinasi.

Sumber: Dokumentasi Pribadi Teras Pers

Di era teknologi yang saat ini melahirkan ilusi dunia tanpa batas namun perspektifnya masih dibatasi oleh tempat setiap individu berada, maka Eye of the Day tidak hanya menghadirkan lukisan untuk didokumentasikan, tetapi juga mengarahkan pengunjung untuk memahami bagaimana di perspektif dari luar memiliki makna yang berbeda dengan apa yang dipikirkan orang. Pada pameran ini, senimanlah yang akan menjadi pemandu untuk memperkenalkan pengunjung pada bagaimana orang-orang di seluruh dunia memaknai dunia mereka dengan berbagai sudut pandang yang diwujudkan dalam tema “The Sun”.

Liffi Wongso, ketika diwawancarai oleh Teras Pers (22/03/25)

Salah satu seniman berbakat asal Jakarta, Liffi Wongso, membagikan makna di balik dua lukisannya, yaitu Dawn: First Light Blooms dan Dusk: Twilight’s Embrace. Dalam lukisannya, Liffi merefleksikan siklus matahari sebagai metafora perjalanan waktu, di mana fajar (Dawn) dan petang (Dust) menjadi dua kutub yang akan selalu berputar. Liffi menghadirkan dunia imajinasi dalam bentuk makhluk-makhluk hibrida yang muncul pada siklus matahari, di mana saat fajar mereka digambarkan sedang merayakan pergantian hari dan saat petang menjadi tanda untuk istirahat, sekaligus menjadi waktu bagi kreativitas bawah sadar untuk hidup. Karyanya menggunakan ilustrasi bergaya manga dan mengeksplorasi bentuk alam untuk memberikan pengalaman visual yang unik kepada pengunjung. 

  Lukisan karya Liffi Wongso

(Sumber: Catalog Eye Of The Day)

  Lukisan karya Liffi Wongso

(Sumber: Catalog Eye Of The Day)

Suwung: Luruh dan Tumbuh, Sebuah Estetika Pasca Kekosongan

Sementara itu, Suwung: Luruh dan Tumbuh karya seniman Vendy Methodos menampilkan rekonstruksi visual rumah tua yang terbengkalai. Suwung bukan hanya kata yang merepresentasikan bahasa Jawa dari keadaan kosong, tetapi juga merujuk pada ketenangan jiwa yang mendalam, sehingga mengartikan bahwa Suwung adalah kondisi dari kematangan jiwa yang menemukan kebebasan. Rumah tua yang awalnya adalah rumah peninggalan kolonial dari pabrik gula, menjadi tempat pengolahan tembakau pada tahun 1954, hingga akhirnya menjadi tempat tinggal bagi seorang seniman. 

Lukisan Karya Vendy Methodos

Lukisan Karya Vendy Methodos

Rumah yang direkonstruksi dalam bentuk lukisan tersebut persis dengan realitanya, di mana ada bagian tembok yang catnya telah terkelupas, beberapa lukisan yang terbengkalai, dan reruntuhan di beberapa sudut rumah. Semua itu dihadirkan Vendy melalui lukisan dan beberapa objek di ruang Galeri, supaya pengunjung bisa merasakan makna dari lukisan-lukisan tersebut. Vendy memadukan warna hitam putih sebagai simbol masa lalu dengan warna lain untuk menggambarkan kondisi saat ini. Dalam perspektif Vendy, rumah tersebut tidak hanya sekadar bangunan yang telah mengalami perubahan fungsi, tetapi juga sebuah ruang yang punya daya tarik emosional bagi sang seniman, memberi makna bahwa alam telah mengambil alih bangunan dan menyimpan banyak kisah tersendiri.  

Vendy Methodos, ketika diwawancarai oleh Teras Pers (22/03/25)

Sebuah keadaan suwung, di mana ada yang luruh, tapi bertumbuh

Makna Seni dalam Ruang dan Waktu

Meski memiliki pendekatan yang berbeda, Eye of The Day dan Suwung: Luruh dan Tumbuh sama-sama menghadirkan hubungan manusia dengan ruang dan waktu. Eye of the Day menunjukkan bagaimana ruang merekam peristiwa dan perjalanan siklus kehidupan, sementara Suwung menelusuri bagaimana ingatan dan imajinasi merekonstruksi kembali jejak yang tersisa. Beberapa pengunjung mengungkapkan kekaguman mereka terhadap karya yang dipamerkan. “Saya sangat terkesan dengan cara seniman menghidupkan kembali sejarah dan imajinasi dalam satu karya,” ujar salah satu pengunjung. 

Melalui karya-karya yang dipamerkan, para seniman mengekspresikan perspektif mereka terhadap sejarah, memori kolektif, dan imajinasi. Selain itu, kedua pameran ini menegaskan bahwa seni memiliki kekuatan untuk mengajak pengunjung untuk menemukan makna baru dalam keseharian yang sering luput dari perhatian. Pameran ini akan berlangsung selama dua minggu ke depan, yakni 15 Maret 2025 hingga 4 Mei 2025. 

Jelajahilah pameran ini dan temukan makna dari ruang dan waktu dengan menembus batas budaya dan seni bersama karya-karya para seniman yang menjadi jembatan untuk perbedaan dari satu sudut pandang ke sudut lainnya!

Penulis : Rara Wiritanaya & Claudya Diva

Fotografer: Lioba Evangelista Gita

Editor: Vicka Rumanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *