Meningkatnya perhatian publik terhadap ruang kritik dan kebebasan menyampaikan pendapat di Indonesia kembali menyoroti isu partisipasi masyarakat dalam ruang publik. Saat ini, keputusan untuk diam atau bergerak menjadi pilihan rumit bagi masyarakat, terutama ketika risiko menyuarakan kebenaran terasa semakin nyata. Namun, menjaga ‘desibel’ perlawanan tetap tinggi merupakan kunci agar api demokrasi tidak padam.

Menjawab persoalan tersebut, Comminfest menyelenggarakan talkshow dengan tema “Anchoring Voices for Meaningful Public Participation” pada Sabtu, (21/02/2026), di Auditorium Kampus 4, Gedung Bunda Teresa. Talkshow ini menghadirkan Raymundus Rikang  (Jurnalis Tempo),  dan Achmad Fauzan (Aktivis Social Movement Institute), selaku narasumber utama.

Tema ini menyoroti pentingnya kebebasan bersuara, di mana peserta didorong untuk aktif berpartisipasi dalam ruang publik. Ketua Panitia Comminfest, Natanael Dipatya, mengatakan bahwa talkshow ini diadakan guna memantik kesadaran masyarakat agar dapat bersuara secara etis dan fokus menyoroti isu-isu krusial dibandingkan perkara remeh. 

“Kami ingin orang-orang kalau bersuara bukan bersuara asal-asalan, tetapi berbasis situasi dan tidak takut untuk menyuarakan fakta yang ada di lapangan.” ujar Patya.

Sumber: Dokumentasi Pribadi Teras Pers

Talkshow ini turut mengungkap realita yang dihadapi media pers hari ini, di mana sudah banyak media yang gulung tikar akibat pemangkasan anggaran pemerintah. Independensi pers juga semakin terancam di rezim yang disebutkan kedua narasumber sebagai, ‘otoriter’. Walaupun media banyak mengalami aksi pembungkaman, dalam platform online, tindakan aktivisme digital justru makin marak dilakukan masyarakat. Namun, hal ini juga menimbulkan persoalan karena peningkatan aktivisme digital tidak dibarengi oleh pemahaman kritis mengenai ruang publik yang memadai. 

“Media sosial itu sangat membantu, terutama ketika melakukan tindak aktivisme di sosial media. Tetapi masalahnya, gerakan sosial kini banyak ancaman dan mulai dikontrol.” ungkap Achmad Fauzan.

Masyarakat kini sudah banyak bersuara lewat media sosial, tetapi Fauzan berpendapat bahwa partisipasi digital saja belum cukup untuk mendorong perubahan yang nyata. Ia menilai keterlibatan generasi muda di media sosial memang lebih mudah dilakukan, tetapi kerap menimbulkan ilusi seolah perubahan besar akan segera terjadi, padahal perubahan tetap membutuhkan keterlibatan langsung di ruang publik.

Fauzan menegaskan bahwa ruang publik di media sosial tidak sepenuhnya bebas karena masih dipengaruhi berbagai kepentingan, termasuk kontrol opini oleh aktor-aktor tertentu, yang sekarang tampak nyata dengan ramai-nya kehadiran buzzer di media sosial. Meski demikian, media sosial tetap memiliki peran penting dalam menjaga perhatian publik terhadap suatu isu. Menurutnya, mentalitas ‘no viral no justice’ masih relevan karena dapat membantu isu tetap diperbincangkan, tetapi tidak cukup untuk membawa perubahan jika tidak diikuti keterlibatan langsung di lapangan. 

Lebih lanjut, ketika ditanya apakah masyarakat sudah cukup ‘berisik’ dalam menyuarakan pendapat, Raymundus Rikang menilai suara publik saat ini belum cukup kuat. “Apakah cukup berisiknya? Saya kira nggak cukup. Belum cukup. Perlu buat lebih berisik lagi,” tegas Raymundus Rikang.

Sebagai penutup diskusi, Rikang mendorong para mahasiswa sebagai agent of change untuk terus ‘berisik’ dalam berbagai cara. Bisa dengan menulis di surat kabar dan sosial media, bergabung dalam komunitas, diskusi, organisasi kemahasiswaan, dan apapun itu yang dapat memantik diskusi dan api perlawanan. 

“Inisiatif apapun yang dimiliki, selama tetap menjaga desibel berisik tetap tinggi, lakukan.” ungkap Rikang di penghujung talkshow.

Sumber: Dokumentasi Comminfest 2026

Dalam diskusi juga hadir pandangan lain dari para audiens yang berasal dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Sebagian besar dari mereka yang diwawancarai mengaku menggunakan platform media sosial untuk bersuara. Uli dan Lingga, menyampaikan bahwa mereka biasanya menggunakan media sosial. “Melalui media sosial, seperti repost template story di Instagram, atau retweet postingan di Twitter/X,” ujar Uli.

Mahasiswa UNY lainnya, Varel, menyuarakan isu publik dengan cara yang berbeda, yakni melalui vlog seperti ‘a day in my life’ untuk mengajak audiens agar ‘ayo’ bersuara. Varel juga membagikan isu publik terkini ke grup-grup Whatsapp untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Meski demikian, tidak bisa dipungkiri penyampaian aspirasi melalui media sosial dinilai masih kurang ‘berisik’. Aktivitas di media sosial sering kali hanya ramai ketika suatu isu sedang viral. Ketika perhatian publik mulai meredup, para pengguna media sosial pun ikut diam. “Makanya kita perlu untuk berisik agar isu tersebut terus naik,” tambah Varel. 

Ketika ditanya mengenai keterlibatan dalam diskusi langsung atau aksi di lapangan, beberapa mahasiswa mengaku masih merasa ragu. Salah satu faktor penyebabnya adalah rasa takut terhadap aparat keamanan. “Faktor ketakutan terhadap aparat seperti polisi, berkaca dari peristiwa Agustus kemarin, sehingga banyak yang tidak berani untuk turun langsung, juga karena kami mempertimbangkan aspek keamanan,” ujar Uli.

Hal ini membuat sebagian mahasiswa merasa bahwa menyuarakan aspirasi melalui media sosial menjadi pilihan yang lebih aman, meskipun dampaknya sering kali dianggap tidak sebesar keterlibatan langsung di lapangan.

Sumber: Dokumentasi Comminfest 2026

Menutup talkshow, Fauzan menekankan bahwa pada akhirnya, pilihan berada di tangan masyarakat: diam atau bergerak. Pernyataan tersebut menunjukkan pentingnya peran aktif masyarakat sebagai kunci perubahan. Talkshow ini mendorong generasi muda untuk menjadi agen perubahan dengan keluar dari zona nyaman dan berani terlibat dalam berbagai gerakan sosial. Sejalan dengan itu, Raymundus Rikang menegaskan bahwa suara mahasiswa tidak boleh padam, mereka harus terus bersuara dengan segala cara yang memungkinkan. 

“Berisiklah dengan apapun yang bisa kita lakukan. Dengan begitu, kita bisa tetap menjaga api perlawanan.”

Penulis: Heirine Marthania Krisna & Agnes W. Alfira Pegili

Editor: Claudya Diva E. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *