Processed with VSCO with al1 preset

Lahan sawah di Kledokan yang langsung bersebelahan dengan kafe

Lahan pertanian di kawasan Kledokan, Yogyakarta, menyempit karena pembangunan yang masif. Kafe dan pemukiman menggantikan area persawahan. 

*****

BERAS yang dipanen dari sawah Sumariani tak sepulen dahulu. Rasanya tak enak dan empuk lagi. Sumariani memanen beras itu dari lahan keluarga yang dialiri irigasi di Desa Kledokan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. “Airnya sekarang berwarna hitam dan lumpurnya berminyak,” kata Sumariani kepada Teras Pers pada 17 Desember 2022.

Menurut Sumariani, kualitas air irigasi menurun sejak pembangunan kafe di sekitar sawahnya. Tempat kongko dan minum kopi itu menghasilkan limbah dan sampah plastik yang diduga telah mencemari saluran irigasi.

Sumariani & Sunikmari, ketika diwawancarai oleh Teras Pers di warungnya (17/12/2022)

Memiliki tiga petak sawah seluas 50 are, Sumariani dan keluarganya menggarap lahan itu untuk mencukupi kebutuhan keluarga belaka. Dia menghabiskan modal sekitar Rp 1,25 juta setiap sekali musim tanam. Duit itu dipakai untuk membeli benih, pupuk, menyewa traktor, dan upah buruh tani.

Sumariani menyebutkan modal yang dikeluarkan tak sebanding dengan hasil panen yang diperoleh. Kualitas beras yang menurun membuat harga jualnya merosot. Karena itu, Sumariani berencana menjual sebagian sawahnya. “Usaha dan hasil yang diperoleh tak seimbang,” ujar perempuan 60 tahun ini.

Desa Kledokan mulanya adalah area persawahan yang subur. Para petani mengairi sawahnya dari Selokan Mataram yang melintasi desa ini. Selokan Mataram adalah kanal irigasi yang menghubungkan Sungai Progo dengan Sungai Opak. Rampung dibangun pada 1944, saluran ini menjadi sumber air untuk lahan pertanian di Yogyakarta.

Lahan pertanian di Kledokan beralih fungsi seiring maraknya pembangunan kantor, kampus, dan pemukiman di kawasan tersebut. Mula-mula hanya ada kantor Badan Tenaga Nuklir Nasional dan Hotel Sahid Yogyakarta yang berdiri di Jalan Babarsari. Universitas Atma Jaya Yogyakarta dan Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” menyusul kemudian. Kledokan pun menjadi pemukiman padat karena bermunculan rumah, indekos, dan warung-warung.

Potret lahan sawah di Kledokan, Catur Tunggal yang sedang memasuki masa tanam dan langsung bersebelahan dengan bangunan (14/12/2022)

Selokan Mataram yang menjadi sumber irigasi juga tak bisa diandalkan lagi. Ketua Kelompok Tani Gawe Rukun ing Tani (Garuni), Sumino, mengatakan pemerintah menutup pintu air irigasi ke Desa Kledokan sejak September tahun lalu. Petani menjadi kesulitan mencari sumber air. “Kami sudah berhenti menggarap sawah,” kata Sumino.

Sumino, ketua kelompok tani Gawe Rukun ing Tani (Garuni)

Kesulitan petani Kledokan bertambah karena berkurangnya insentif. Menurut Sumino, menyetop bantuan benih padi sejak 2015. Petani hanya menerima subsidi pembelian pupuk saja.

Sebagian warga Kledokan masih bertahan menjadi petani meski sudah tak punya lahan. Mereka menggarap sawah milik perdukuhan. Salah satunya Sunikmari. Dia menyewa sawah dengan harga Rp 1.000 per meter persegi setiap tahun.

 Menurut Sunikmari, pemerintah dukuh berencana menaikkan banderol sewa tanah menjadi Rp 4.000 per meter persegi. Petani keberatan dengan harga baru tersebut. “Lahan ini bisa berubah menjadi kavling semua karena tak ada petani yang menyewa,” ujarnya.

Petani dan pemerintah sedang bernegosiasi untuk menentukan harga sewa baru. Kedua pihak setuju biaya sewa per meter persegi menjadi Rp 2.000 tapi belum ada perjanjian tertulis. “Kledokan sudah tak bisa menjadi lahan pertanian karena infrastrukturnya tak mendukung,” kata Sunikmari.
###  

Tim liputan: 

  1. Henrikus Harkrismoyo Vianney
  2. Yohanes Wibisono
  3. Nindasari
  4. Stefanus Lukito Adiyanto
  5. Bernardino Realino Arya Bagaskara
  6. Christoforus Jeremy
  7. Kristoferus Lokanatha Prabaswara Dewanto

Editor : Raymundus Rikang 

Desain : Giovani Delvika Ika Putri 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *